Minggu, 17 Januari 2016

Sebuah cerpen " JELAGA"




J E L A G A

 

" Anganku ingin seperti burung, bisa terbang bebas dan setinggi yang ku mau. Sebelum terbelenggu! Namun…entahlah? Kini segalanya  tampak buram  bahkan hitam seperti jelaga yang tak sirna dikunjungi tahun demi tahun "

“ Berapa usiamu? ”
“ Limabelas tahun, Nyonya! ”
“ Apakah orangtuamu tahu kalau kau ingin bekerja di sini? ”
 Aku menggeleng perlahan. Sekilas kulirik dirinya. Meskipun wajah itu telah dihiasi keriput, namun suaranya masih jernih tidak goyah dimakan usia.
“ Siapa namamu tadi? ”
“ Yuli, Nyah!” Jawabku untuk ketiga kalinya dengan lontaran pertanyaan yang sama.
Cukup lama ia menganggapku tidak ubahnya seperti sebuah patung.
“ Emang enak dicuekin? ” ledekku dalam hati.
 Kulihat nyonya itu berbisik dengan seorang perempuan muda yang duduk bersimpuh di sebelah kiri sofa yang tengah didudukinya saat itu. Persis berhadap-hadapan denganku.
 Perempuan itulah yang mengajak sekaligus mengenalkanku pada juragannya, yah…Nyonya Fu. Dari dia jualah aku tahu bahwa Nyonya Fu itu seorang yang perfeksionis, sehingga terkesan agak cerewet dalam segala hal. Meskipun begitu, dia cantik khas wanita Tionghoa.
“ Kalau kamu bekerja di sini, bagaimana dengan sekolahmu? Aku dengar dari Satumi, kalau kau sudah duduk di tingkat akhir” Ucapannya barusan sungguh mengejutkan. Lamunanku jadi buyar seketika.
Bibirku terkunci rapat. Kepalaku menunduk semakin dalam karena aku takut kesedihan yang mengambang di wajahku terbaca olehnya. Sejak awal aku berharap kalimat itu tidak keluar dari mulutnya, namun akhirnya…
 “Sebenarnya aku keberatan menerimamu di sini. Aku yakin kau bisa menerka alasannya. Bukankah begitu? ”  Pernyataan itu menekan ulu hatiku. Aku hanya bisa mengangguk, pasrah…
         “ Pertama, kau masih anak-anak, di bawah umur. Kedua, orangtuamu sendiri tidak tahu kalau kau ingin bekerja di rumahku. Hal ketiga, aku tak tahu apakah kau sudah benar-benar berhenti dari sekolah atau tidak. Asal kau tahu hal itu bisa menjadi masalah di tempat ini.”
           “ Sejujurnya, aku kasihan padamu, Yuli ”
“ Dalem mengerti Nyonya! ” sahutku lirih, nyaris berbisik.
          Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya aku diberi kesempatan untuk membantu mengerjakan pekerjaan di rumah besar itu.
         “ Yuli, kamu boleh bekerja di sini, tapi ingat kamu harus kerja dengan benar dan sungguh-sungguh. Aku tidak suka memperkerjakan orang hanya mau upahnya saja, sedangkan tugas tidak dijalankan dengan maksimal. Mengerti?” Ia berkata tegas. Membuat ku agak ketar-ketir.
“ Dalem mengerti! ” sahutku gembira.
           “ Mathur suwun, nggih! ”
Di balik kacamata plus itu, sepasang matanya yang sipit tampak berkedap-kedip cepat. Lalu beliau meninggalkan aku dan Satumi, berdua saja di ruang tamu yang sangat luas.         
Aku dan Satumi tersenyum, bahagia. Antara kami masih ada hubungan saudara, khususnya dari pihak bapak. Usia kami hanya terpaut tiga tahun saja. Ia biasa ku panggil Lek Tumi.. Satumi putus sekolah sejak kelas tiga SMP, jika dilanjutkan tentunya ia akan duduk di kelas tiga SMA.
          Dengan bekerja aku ingin membantu bapak dan adik-adikku, supaya tidak selamanya menjadi seperti sekarang ini. Aku ingin merubah nasib buruk, tapi kapan? Tunggu jika aku sudah punya uang…. Hehehe.
       Hari pertama bekerja memang melelahkan. Sepulang dari rumah jurangan, aku langsung masuk kamar untuk melepas penat. Saat berada di depan pintu kamar, aku dikejutkan suara bapak yang keluar dari dapur.
“ Wes muleh toh, nduk?” sapa bapak sambil menghirup kopi yang masih mengepul dari dalam cangkir.
“ Sampun Pak! ” balasku singkat sambil melirik sebentar kepadanya.
“ Tumben bapak berada di rumah sore-sore begini? ” aku bertanya-tanya dalam hati.
 “ Aku pasti dikira baru dari sekolah” Pikirku nakal.
Berhubung aku PGRI, maka jadwal masuknya siang. Gantian dengan anak negeri. Tetapi setiap pagi aku mengenakan seragam sekolah dan pamitnya ke rumah teman untuk belajar bersama. Untunglah bapak percaya saja dengan sandiwaraku ini.
         Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang kapuknya sudah mati sambil ku dengar alunan lagu dangdut si Ratu Ngebor, Inullumayanlah suaranya yang rada menghentak dan menggairahkan itu mampu meringankan capekku.
Kubiarkan pikiranku menerawang kemana-mana. Di mataku terbayang peristiwa demi peristiwa. Semua adalah masa lalu, ia kekal bersarang di otakku. Entah mengapa, tiba-tiba wajah ibu membayang di pelupuk mata. Rasa kangenku padanya menyergap hingga tak terperi.
“ Bu, kenapa ibu tega meninggalkan kami? Apakah ibu tidak sayang lagi dengan kami?” Batinku sangat sedih.
“ Kami butuh, ibu…”  Suaranya gemetar.
          “ Tahukah ibu, keadaan kami menjadi kacau semenjak ibu pergi dua tahun yang lalu. Kekosongan dan kehampaan senantiasa menghantui kami”     
           “ Bu…sekarang ibu ada dimana? Pulanglah bu…!” batinku merintih.
Beransur-angsur bayangan ibu hilang. Dan, muncul bayangan pertengkaranku dengan bapak kemarin.
“ Zaman sekarang cari duit susah"
" Mbecak? Berapa sih penghasilan bapakmu ini dari mbecak, ndak seberapa, Nduk!” Volume suara bapak agak tinggi.
“ Pak, Yuli tahu penghasilan sampeyan tidak seberapa. Yuli hanya minta bapak berhenti main togel. Gara-gara itu bapak sekarang seperti wong gendeng !”
“ Bagaimana bisa waras, Pak? Kalau selalu menghitung angka-angka togel itu! Berharap kaya mendadak? Ugh, darimana datangnya kalau tidak bekerja, Pak?” Aku menjadi sebel. Sangat kecewa dengan lelaki separuh baya itu.
Aku pun tak habis pikir. Hampir semua teman-teman bapak di pangkalan becak Pasar Singosari sekarang terkena demam togel. Wabah itu rupanya menjalar ke mana-mana. Tak disangka-sangka, bapak, konco-koncoku juga pada menggilai nomor setan itu, dari sopir angkot, tukang ojek, sampai seorang perwira polisi dan tentarapun  tak luput dari yang namanya T-O-G-E-L. Sialan! "

***
Suara gaduh di luar membuyarkan lamunanku. Kukecilkan bunyi radio. Lama kelamaan berubah bising, bersaing suara teriakan dan rengekan adik-adikku yang sedang merayu bapak. 
“ Pak…Adi minta uangnya ya! Adi ingin beli HP, Pak! ”
            “ Abi beliin mobil-mobilan dong, Pak! "
 Uang? Kudengar mereka menyebut-nyebut uang. Uang dari mana? Belum sempat aku bertanya, adik-adikku sudah menghambur ke arahku. Suara mereka ribut sekali, seperti burung yang berkicau di pasar burung.
“ Mbak Yuli, bangun dong! Mbak…ayo bangun!” Si bungsu Abi memukul-mukul lenganku. Menyuruhku segera bangun.
            “ Ono opo sih? “ Kataku rada sewot.
            “ Nomer bapak tembus hari ini” Tampangnya berseri-seri.
            “ Nomer apaan? “       
 “ Walah…Mbak Yuli iki, iku lho..nomer togel. Bapak dapat tiga juta! Asyikkan? ”
Kedua lelaki kecil itu tertawa bareng, riang. Aku mencibir tidak suka.
            “ Mending uangnya di belikan HP saja ya, Mbak? Beli tiga!”.
         “ Yee…daripada HP kan lebih baik beli mobil-mobilan saja? Kan dapat banyak?” Celutuk si Adi tak kalah sengit.
           “ Sudah..sudah…sana… keluar..huss…hayooo!”.
“ Mbak mau istirahat kok kalian ribut di sini, sih! " Usirku seraya mencubit pantat mereka. Lalu, mereka menghindar kesakitan sambil memegangi pantatnya sendiri-sendiri, terus mengarahkannya padaku, mengejek.
“ Hayoo…awas lho kalau berani sama mbak Yuli! ” Ancamku sambil  mengepalkan tangan. Sontak saja keduanya berlarian keluar sambil cekikan.
“ Dasar, monyet kecil! ”  Umpatku seraya tersenyum, lucu dengan ulah mereka barusan. Kemudian aku melanjutkan istirahatku kembali.
Esok hari bapak memberitahuku bahwa uang hasil togel itu akan digunakan untuk merehab dapur yang sudah mau ambruk.
 “ Terserah bapaklah! ” ucapku datar.
Sikapku seperti biasanya, dingin dan kaku. Aku  bagaikan angin yang melintas sekejap di hadapannya.
 ***    

(40 hari kemudian)
            Kesulitan hidup selalu menghantui kami. Dari hari ke hari, ulah bapak semakin menjadi-jadi. Apalagi sejak mendapat peruntungan togel hari itu. Uang hasil mbecak hampir semuanya habis digunakan untuk membeli “kegilaannya”. Aku menjerit, melihat adikku meminta bapak untuk membayar tunggakan SPP yang selama tiga bulan tidak dibayar.
Yah…aku pasrah saja pada nasib. Bisa makan dan minum saja sudah cukup. Seringkali Mbah Sumi dan Paklek Bandi (ibu dan kakak tertua dari bapakku) yang meminjamkan uangnya untuk keperluan sekolah kami. Mereka ingin kami tetap sekolah, paling tidak sampai lulus SMP. Begitulah  pikir mereka. 

            “ Hayooo….!”
            “ E..e…copot..ee..copot” 
“Mbak Vivi ngagetin saya!” Yuli tampak malu.
 “Ntar ta’ bilangin sama Oma, lho! Abis kamu sukanya melamun saja, sih” canda gadis belia itu, renyah.
“Ha..ha…ha…” Ketawaku lepas begitu saja.
 Fu Vivi, cucu juraganku. Kami seusia. Gadis itu lincah, modis dan cantik. Sejujurnya aku cemburu pada nasib dan keadaannya. Wajah dan kulitnya putih…bersih! (dibaca sambil bayangkan iklan Ponds). Sementara kulitku tetap hitam, meskipun sudah memakai kosmetik pemutih.
         “ Waa…rambutnya bagus sekali? Tambah lurus saja, direbonding ya Mbak?” Ujarku polos. Vivi tersenyum manis sekali. Kulit wajahnya yang putih menjadi bersemu merah, merasa dipuji olehku.
            “ Iya dong, bagus kan? ”
 Seketika itu juga pikiran nakalku menyentil, di mana kubayangkan diriku  menjadi dirinya, dan ia menjadi diriku. Mana mungkin ta? Aku kok sekarap’e dewe. Khayal abis.
            “Mbak Vivi tambah coaantik lho!”  Pujiku tulus sambil menatap tak berkedip.
           “ Moso sih, Yul?. Ah, kamu bisa aja deh ih?” Sambutnya centil, pura-pura tidak tahu.
           “ Wes yo…aku pegi dulu! Ntar kesorean lagi ke gerejanya.”
Vivi bergegas masuk ke mobil yang sudah menunggunya di luar pagar, siap mengantar kebaktian sore itu. Aku  memandang takjub,  disamping  putih dan cantik, bawaannya selalu ceria. Jarang sekali kudapati ia nampak susah. Bertolak belakang denganku… .
Saat asyik menyeret daun-daun kering di halaman dengan sapu lidi, mendadak dari balik pagar aku dikejutkan oleh suara yang sangat kukenal memanggil-manggil namaku.
“ Hei, Yul! ” suaranya keras, cempreng lagi!
           “ Hoi, Mbon! Ayoo..sini! Masuk! ” sahutku setengah berteriak.
           “ Ndak popo’a, rek?”  gadis itu ragu. Dialek Malangannya begitu kental.
Juraganku memang cerewet, saking cerewetnya itulah, maka dia kelihatan kereng di mata orang lain. Kemudian, aku menggeleng dan menyeretnya masuk.
          “ Asal kamu ndak bertingkah aneh-aneh, ya…ndak nesu orang’e !” nadaku setengah menggertak.
            Nama gadis itu Tutik. Sebutan Ambon sudah melekat sejak kecil, karena kulitnya hitam legam seperti wong Ambon. Kalau diamati, wajahnya rada-rada mirip pemeran wanita di film Kuch-Kuch Ho Tai, si Kajol. Hitam-manis, berdarah campuran Jawa-Madura. Hanya dia yang mengetahui keadaanku sekarang. Di samping bersahabat, kebetulan rumahnya juga berdekatan dengan kediaman keluarga Fu.
“ Aku sengaja ke sini. Soale, ada amanat yang mesti aku sampaikan ke awak mu ” Tuturnya medhok sambil memunguti daun-daun yang kukumpulkan tadi.
Ono opo, Mbon? Emm…pasti mengenai sekolah? ” tebakku seraya menyeka keringat yang jatuh di dahi.
Yo’ a! ” sahutnya cepat.
“ Yul, koen disuruh menghadap ke Pak Budi besok! Katanya, gak boleh ada harga tawar-menawar lagi! Maksudnya, kamu tidak bisa mengelak lagi…ya..seperti biasa kau lakukan! ” ungkap gadis manis itu sambil merangkul bahuku.
“ Yul, sorry yo! Aku terpaksa, dan emang dipaksa untuk cerito perihal awakmu ambie guru BP. Sumpah deh Yul ! Aku gak iso berdalih lagi, terus-terusan diburu Bu Tatik. ”
Ambon si anak gaul memaparkan semuanya dengan gayanya yang khas ABG. Yuli merasa serba salah. Dibenaknya muncul rasa cemas dan takut.
           “Koen ndak popo’ a, Yul? ” Ambon berubah cemas. Aku menggeleng ringan.
“Mbon, aku tidak percaya jika pihak sekolah memintaku kembali ke sana. A..a..aku..kan sudah satu bulan lebih tidak pernah masuk kelas? ” ujarku bimbang.
“ Masa, mereka membolehkan aku mengejar ketinggalan ini? ” Nadaku  semakin sumbang dan ragu. 
“ Yo opo sih arek iki, aku gak bohong! ”
“ Percaya gak percaya, pokoknya besok kamu harus ke sekolah lagi. Aku gak mau tahu lagi loh! ” Seloroh Ambon mengandung ancaman.
“ Iyo wis, sesok ta usahano neng sekolah. Mbon, suwun yo! ” kataku seraya menepuk bahu kirinya. Ia balas tertawa lebar.
Okeh deh, aku balik dulu ya! Byee...! ”
Ambon pergi sambil berlari kecil. Yuli masih melongo atas apa yang didengarnya barusan.
***
Petang itu, aku utarakan niat kepada juragan untuk keluar dari pekerjaan.  Dari perkataan Nyonya Fu tersirat bahwa dia membolehkanku kembali  bekerja di sana. Sewaktu-waktu, kapan saja dan jika aku membutuhkannya.
Upah yang kuterima selama bekerja di sana tidak terlalu besar, tetapi dari upah tersebut cukup untuk membayar uang sekolah adikku yang sempat tertunggak beberapa bulan. Nyonya Fu juga memberi pesangon lebih, bahkan melebihi upah yang ku dapat saban dua pekan sekali.
Sepanjang perjalanan pulang pandanganku memang menjurus ke depan, namun pikiranku sebaliknya. Aku berpikir tidak akan kembali ke rumah itu. Aku ingin pergi ke tempat lain. Mengadu nasib dengan membawa pengalaman yang telah kudapatkan selama bekerja di tempat keluarga Fu. Tentunya, sekaligus mencari jejak ibu yang lenyap ditelan waktu.
Sampai detik ini bapak tidak tahu dan tidak akan pernah tahu jika aku telah melakukan kebohongan besar padanya, membolos sekian bulan dari sekolah, serta menjadi seorang pembantu rumahtangga, dan…termasuk keberadaanku saat ini  semenjak kelulusan itu.
***
            Malam merambat semakin tinggi. Bulan dengan cahayanya yang keperakan memantul di tangkup jendela kamarku. Angin mendesau, dedaunan terhempas pasrah. Aku mengemasi barang-barang termasuk lembar ijazah (benda keramat bagiku). Semua kusembunyikan di koper tua milik ibuku. Perjalanan ini tentu amatlah jauh,… jauh sekali! Kutitipkan salam dan cium sayang pada orang-orang yang kusayangi dan kukasihi lewat angin yang bertiup malam itu.
Semburat mentari menyembul di ufuk timur menyaksikan kepergianku menyusuri jalan-jalan kota sejenak. Kubiarkan jejak itu terukir abadi di sana, agar jika ku kembali, aku telah hapal di mana pernah berdiri dan berpijak.
         Aku melangkah dengan keyakinan bahwa setiap jalan sudah terpetakan. Ke mana angin bertiup dan sayap mengepak, sejauh itulah aku terbang. Terbang jauh dan tinggi meninggalkan sarang untuk menemukan sarang lainnya. Hanya jika ku inginkan, namun bukan orang lain inginkan. 
          Roda-roda berputar gemuruh memadati sudut-sudut jalan. Baik hari ini maupun esok, debu senantiasa menumpuk di awan. Manusia pun tak berhenti melangkah, hanya malamlah dapat merengkuh buaian. Kereta api merayap perlahan meninggalkan stasiun Kota Baru menuju pemberhentian terakhir di Gambir.
         Selamat tinggal, bapak! Selamat tinggal adik-adikku! Selamat tinggal Malang ku... Aku akan berkabar pada kalian!



(Writter : Dida Hamid* Majalah Sagang - Lampung Post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar