Setangkup Asa di Balik kemilau Intan
Intan, batu mulia yang
kilaunya mampu menyihir seseorang untuk melakukan segala cara untuk bisa
memilikinya. Kilaunya menyorotkan sebuah keagungan dan kekuasaan (strata
sosial), serta kekayaan. Namun dibalik semua itu kilaunya juga menyimpan
kesuraman dan penderitaan dari para pendulang intan dan emas yang rela
berkubang saban waktu, tak peduli hujan dan panas terus saja berjuang mencari
biji-biji intan yang bercampur dengan serbuk emas demi sebuah impian dan
harapan (yang tak pasti datangnya).
Intan, kilaunya yang gemerlap tidak hanya disorot oleh
para pendulang dewasa, anak-anakpun ikut berlomba mendapatkannya. Tidak
dipungkiri, tidak sedikit diantara anak-anak tersebut yang akhirnya menjadi
pendulang sungguhan dan meninggalkan bangku sekolah (putus sekolah) demi
mendapatkan butiran-butiran intan atau serbuk emas. Uang? Tentu saja menjadi
prioritas anak-anak tersebut. Sejak kecil (usia pra-sekolah) mereka sudah
dikenalkan cara-cara mendulang oleh orangtua mereka atau lingkungan mereka
secara tidak langsung. Maka mereka juga sudah mengenal uang dari hasil
mendulang tersebut.
Meskipun
bertahun-tahun menjadi pendulang (intan maupun emas dan batu permata lainnya)
tetap saja mereka dihadapkan pada satu kenyataan, yakni kemiskinan. Tidak hanya
miskin ilmu (rendahnya pendidikan) tetapi juga miskin materi (harta). Sebagian
besar orangtua mereka memiliki pandangan bahwa anak-anak itu sendiri yang tidak
ingin sekolah/susah di suruh sekolah. Jadi, mereka lebih memilih membiarkan
saja anak-anak tersebut untuk melakukan apa yang menjadi pilihan/keinginan
mereka. Lagipula didukung oleh keadaan kehidupan mereka yang notabene menengah
ke bawah. Sebagian orangtua mereka berpendapat bahwa jika anak-anak itu bekerja
jadi pendulang tentunya hasil yang mereka dapatkan bisa buat anak-anak itu
sendiri (jajan, dsbnya). Dengan demikian mereka juga merasa diringankan. Kadang
hasil anak-anak itu bisa menambah penghasilan keluarga.
Anak-anak pendulang jarang masuk sekolah bahkan karena terlalu
sering absen akhirnya mereka dikeluarkan dari sekolah. Hal ini menimpa Koirul
(9 tahun) masuk kelas I Madrasah tak lama berselang akhirnya keluar. Sementara
Lutfi (9 tahun) juga baru masuk SD, sekarang duduk di kelas I. Sebagian besar
anak-anak di sana memulai pendidikan dasar dimulai dari usia lebih dari 7 tahun
(telat masuk), karena faktor biaya dan juga keasyikan bekerja. Bisa jadi
nasib Khoirul dan Lutfi akan seperti para pendulang lainnya. Yang namanya
cita-cita tidak sempat terlintas dibenak mereka karena yang terpikirkan hanya
mendulang dan mendulang.
Foto atas-bawah: Lutfi sedang mendulang intan di kawasan Cempaka, Kalimantan Selatan.
Pak
Hamidani (28 tahun) generasi sebelumnya. Sejak kecil ia sudah terjun menjadi
pendulang dan juga putus sekolah sejak usia 9 tahun. Hingga kini ia masih
bertahan menjadi pendulang. Menurutnya hasil mendulang itu sangat lumayan,
meski tidak tiap hari ia dapatkan.
Khoirul
dan Lutfi adalah sebagian kecil "potret kehidupan" sebagai anak-anak
yang bekerja sebagai pendulang di tempat tersebut. Khoirul selalu berpikir "kalu
hari ini dapat serbuk emas atawa intan, lumayanlah…" ujarnya. Jadi saban
hari dia selalu turun mendulang. Sedangkan Lutfi pergi mendulang setelah pulang
sekolah. Hasil penjualan (serbuk emas, kalau nasib baik dapat butir-butir intan
atau kadang batu permata lainnya seperti mata kucing) bisa dijual ke penadah
sementara dengan kisaran harga antara 10-20 ribu bahkan bisa lebih (tergantung
banyak sedikitnya). Hasil terendah yang diperoleh anak-anak itu Rp 5000,- .
Yah, nominal yang tidak besar memang? Lebih besar bahayanya dibanding hasil
yang didapatkan.
Areal
pendulangan dijadikan anak-anak tersebut sebagai tempat yang bisa mendatangkan
uang sekaligus juga sebagai tempat bermain. Padahal mereka tahu jika tempat
tersebut juga sangat berbahaya dan sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa mereka. Tak
jarang terjadi longsor dan tanah menimbun para pendulang. Dan resiko terinfeksi
penyakit kulit juga mengancam mereka. Tetapi faktor kesukaan dan keinginan
mendapatkan emas serta intan dan permata lainnya menjadikan mereka lupa
segala-galanya. Pada akhirnya, impian dan harapan terus terpantul di balik
Kemilau Intan. ( Big Five for Documentary film Eagle Awards 2007 on MetroTV)
Sumber : Lutfi, Khoirul, Hamidani, Hayat (Warga Cempaka)
Lokasi : Pendulangan Intan, Desa Cempaka-Martapura, Kalimantan Selatan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar