Minggu, 17 Januari 2016

A documentary film " Setangkup Asa di Balik Kemilau Intan "




Setangkup Asa di Balik kemilau Intan



           Intan, batu mulia yang kilaunya mampu menyihir seseorang untuk melakukan segala cara untuk bisa memilikinya. Kilaunya menyorotkan sebuah keagungan dan kekuasaan (strata sosial), serta kekayaan. Namun dibalik semua itu kilaunya juga menyimpan kesuraman dan penderitaan dari para pendulang intan dan emas yang rela berkubang saban waktu, tak peduli hujan dan panas terus saja berjuang mencari biji-biji intan yang bercampur dengan serbuk emas demi sebuah impian dan harapan (yang tak pasti datangnya). 
          Intan, kilaunya yang gemerlap tidak hanya disorot oleh para pendulang dewasa, anak-anakpun ikut berlomba mendapatkannya. Tidak dipungkiri, tidak sedikit diantara anak-anak tersebut yang akhirnya menjadi pendulang sungguhan dan meninggalkan bangku sekolah (putus sekolah) demi mendapatkan butiran-butiran intan atau serbuk emas. Uang? Tentu saja menjadi prioritas anak-anak tersebut. Sejak kecil (usia pra-sekolah) mereka sudah dikenalkan cara-cara mendulang oleh orangtua mereka atau lingkungan mereka secara tidak langsung. Maka mereka juga sudah mengenal uang dari hasil mendulang tersebut. 
Meskipun bertahun-tahun menjadi pendulang (intan maupun emas dan batu permata lainnya) tetap saja mereka dihadapkan pada satu kenyataan, yakni kemiskinan. Tidak hanya miskin ilmu (rendahnya pendidikan) tetapi juga miskin materi (harta). Sebagian besar orangtua mereka memiliki pandangan bahwa anak-anak itu sendiri yang tidak ingin sekolah/susah di suruh sekolah. Jadi, mereka lebih memilih membiarkan saja anak-anak tersebut untuk melakukan apa yang menjadi pilihan/keinginan mereka. Lagipula didukung oleh keadaan kehidupan mereka yang notabene menengah ke bawah. Sebagian orangtua mereka berpendapat bahwa jika anak-anak itu bekerja jadi pendulang tentunya hasil yang mereka dapatkan bisa buat anak-anak itu sendiri (jajan, dsbnya). Dengan demikian mereka juga merasa diringankan. Kadang hasil anak-anak itu bisa menambah penghasilan keluarga.
Anak-anak pendulang jarang masuk sekolah bahkan karena terlalu sering absen akhirnya mereka dikeluarkan dari sekolah. Hal ini menimpa Koirul (9 tahun) masuk kelas I Madrasah tak lama berselang akhirnya keluar. Sementara Lutfi (9 tahun) juga baru masuk SD, sekarang duduk di kelas I. Sebagian besar anak-anak di sana memulai pendidikan dasar dimulai dari usia lebih dari 7 tahun (telat masuk), karena faktor biaya dan juga keasyikan bekerja. Bisa jadi nasib Khoirul dan Lutfi akan seperti para pendulang lainnya. Yang namanya cita-cita tidak sempat terlintas dibenak mereka karena yang terpikirkan hanya mendulang dan mendulang. 








Foto atas-bawah: Lutfi sedang mendulang intan di kawasan Cempaka, Kalimantan Selatan.

Pak Hamidani (28 tahun) generasi sebelumnya. Sejak kecil ia sudah terjun menjadi pendulang dan juga putus sekolah sejak usia 9 tahun. Hingga kini ia masih bertahan menjadi pendulang. Menurutnya hasil mendulang itu sangat lumayan, meski tidak tiap hari ia dapatkan.

Khoirul dan Lutfi adalah sebagian kecil "potret kehidupan" sebagai anak-anak yang bekerja sebagai pendulang di tempat tersebut. Khoirul selalu berpikir "kalu hari ini dapat serbuk emas atawa intan, lumayanlah…" ujarnya. Jadi saban hari dia selalu turun mendulang. Sedangkan Lutfi pergi mendulang setelah pulang sekolah. Hasil penjualan (serbuk emas, kalau nasib baik dapat butir-butir intan atau kadang batu permata lainnya seperti mata kucing) bisa dijual ke penadah sementara dengan kisaran harga antara 10-20 ribu bahkan bisa lebih (tergantung banyak sedikitnya). Hasil terendah yang diperoleh anak-anak itu Rp 5000,- . Yah, nominal yang tidak besar memang? Lebih besar bahayanya dibanding hasil yang didapatkan.
Areal pendulangan dijadikan anak-anak tersebut sebagai tempat yang bisa mendatangkan uang sekaligus juga sebagai tempat bermain. Padahal mereka tahu jika tempat tersebut juga sangat berbahaya dan sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa mereka. Tak jarang terjadi longsor dan tanah menimbun para pendulang. Dan resiko terinfeksi penyakit kulit juga mengancam mereka. Tetapi faktor kesukaan dan keinginan mendapatkan emas serta intan dan permata lainnya menjadikan mereka lupa segala-galanya. Pada akhirnya, impian dan harapan terus terpantul di balik Kemilau Intan. ( Big Five for Documentary film Eagle Awards 2007 on MetroTV)

  


Writter & director      : Dida Hamid*
Sumber                    : Lutfi, Khoirul, Hamidani, Hayat (Warga Cempaka)
Lokasi                      : Pendulangan Intan, Desa Cempaka-Martapura, Kalimantan Selatan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar